Sumpah Berbuah Karma

Bu Endang, tak terasa ingatan itu tergiang kembali. Ingatan pada Bu Endang kembali tergiang ketika baca email ada teman yang menanyakannya. Bagi temen-temen yang dulunya di kelas IPA pasti mengenalnya. Sosoknya anggun, sedikit kurus memang, tapi tidak mengurangi kecantikannya. Wanita yang keturunan bugis itu pengajar biologi dikelas kami. Bahkan oleh sekolah ditunjuk sebagai wali kelas program A2 (program biologi). Dulu saat saya sekolah di SMA Negeri Purwoharjo, cuman menerima 3 kelas. 1 kelas IPA dan 2 sisanya IPS. Saya masuk di program A2 (Biologi), yang nota bene kelas satu-satunya, bersama Barianto, Brit, Retno, Made, siapa lagi ya.. he..he..

Sebagai wali kelas, bu Endang adalah sosok yang perhatian. Mengajarnya sistematis. Tulisannya bagus (palagi kalo dibandingkan Barianto, he…he..), meskipun menulis dengan kapur (amit-amit, saya paling susah kalo nulis pake kapur). Ibu yang cantik ini setiap masuk kelas rapi sekali. Dengan mata lebar dan tatapan yang tajam, bu Endang adalah guru yang ramah dan menyenangkan.

Tapi meski begitu, kenapa ya Saya kok paling ngga bisa belajar Biologi. Mungkin terlalu melankolis cara membawakannya, sehingga Saya merasa selalu ngga bisa mengikuti pelajaran biologi. Dan pada akhirnya, Saya tidak peduli ketika pelajaran Biologi yang ujung-ujungnya bolos. Bu Endang pula yang menyelamatkan Saya dari kegagalan di SMA.

Waktu itu tidak terlupakan, ketika saya bolos selalu pas pelajarann biologi beberapa minggu. Bu Endang melalui temenku sekamar (Edy-almarhum), supaya aku diwajibkan ke rumah bu Endang di Jajag. Dengan penuh deg-degan, aku diantar Edy masuk. Apa yang terjadi, meski dengan keanggunannya, bu Endang memaksa Saya bersumpah, untuk tidak bolos dalam sekalipun pas pelajaran Biologi.. Ini karena 3 bulan setelah kejadian itu EBTANAS (sekarang UN) berlangsung. Sumpah yang dilakukan tertulis dan lisan, dengan Edy sebagai saksi..

Mungkin hukum karma ya, Saya melanjutkan kuliah baik S2 maupun S2 di jurusan Biologi. Ya itulah cerita mengharu biru, yang tak pernah terlupakan.. Sayang saksiku (Edy-almarhum) sudah terlebih dulu meninggalkan aku.. Kalo masih ada, mungkin aku bisa ketawa terbahak-bahak bersamanya.

Iklan

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: