Bakso Pa’ Dullah, sang legendaris

Teman-teman alumni SMA Negeri Purwoharjo. Apakah Anda masih ingat bakso Pa Dullah? Semasa SMA dulu, bakso ini bener-bener legit.. “Pentol” nya kesat, dagingnya terasa, apalagi yang bakso urat dan ditambah belungan. Hampir tiap hari merasakannya. Rasanya bener-bener nikmat. Dan harganya waktu itu plus belungan hanya Rp 250,- (baca dua ratus lima puluh rupiah) saja.

Waktu itu, tidak ada bakso yang senikmat dia. Buka dengan gerobak dorong dan mangkalnya di depan toko baju “morodadi”. Biasanya, pa Dullah berjualan sejak pukul 14.00 sampai jam 20.00 malam. Karena baksonya sangat enak, maka kisaran waktu itu sudah cukup untuk menghabiskan menu bakso yang ada.

Pa’ Dullah adalah sosok monumental dikalangan penggemar bakso di purwoharjo, dan terkenal juga hingga luar purwoharjo. Dari pa’ Dullah ini akhirnya jadi sumber inspirasi bagi pedagang lain. Bahkan saat ini purwoharjo lebih dikenal sebagai kota bakso dari pada SMA negerinya. Mau reunian makan bakso di pa Dullah?

Service Mobil BaeNolku berujung Reuni

Dunia memang sempit, mungkin itu yang tepat menggambarkan pertemuanku dengan Mas Sujito. Aku mempunyai mobil kesayangan suzuki baleno millenium tahun 2001, yang karena isengku tak ganti menjadi “BaeNol”, cuman ngeggeser sedikit hurufnya. Pada suatu kesempatan menjelang mudik lebaran, aku service rutin dilanggananku beres jl setiabudi bandung. Aku melihat ada mobil baleno mulus dengan yang empunya bapak2 yang menurutku udah tampang bos. Berpakaian rapi, dengan mobil yang bersih jauh dengan punyaku yang seringkali kumuh.

Dengan sedikit agak ragu aku bertanya, “Pak mobilnya ya?”, maklum aku emang hobi prospekting ma orang. Etung2 banyak teman banyak rejeki. “Iya, ini lagi service”, jawabnya. “Sudah langganan ya mas?”, tanyaku selanjutnya. “Yup, dari pengamatanku disini yang paling bagus dibandingkan dengan “beres” suzuki lainnya”, katanya. Dan obrolannya semakin berlanjut. Biasa, dalam metode prospekting, trust itu dibangun salah satunya membangun persamaan.  Dan membangun persamaan diantaranya bisa gerak dan bicara topik. Trus tak tanya lanjut, “Emang asalnya darimana Pa”?. “Dari Banyuwangi”, jawabnya. Wah kloblah kalo gitu.. obrolanpun berlanjut ngalor ngidul..

Dan tau ngga, ternyata bapak yang satu ini ternyata juga berasal dari SMA yang sama, SMA Purwoharjo. Kok bisa ya, aku yang sudah keliling kemana-mana, ketemu dengan sesama alumni SMA pas dibengkel.. ya akhirnya reunian.. ada-ada aja (aya-aya we, kata pa wapres Jarwo Kuat)

My BaeNol

My BaeNol

Sumpah Berbuah Karma

Bu Endang, tak terasa ingatan itu tergiang kembali. Ingatan pada Bu Endang kembali tergiang ketika baca email ada teman yang menanyakannya. Bagi temen-temen yang dulunya di kelas IPA pasti mengenalnya. Sosoknya anggun, sedikit kurus memang, tapi tidak mengurangi kecantikannya. Wanita yang keturunan bugis itu pengajar biologi dikelas kami. Bahkan oleh sekolah ditunjuk sebagai wali kelas program A2 (program biologi). Dulu saat saya sekolah di SMA Negeri Purwoharjo, cuman menerima 3 kelas. 1 kelas IPA dan 2 sisanya IPS. Saya masuk di program A2 (Biologi), yang nota bene kelas satu-satunya, bersama Barianto, Brit, Retno, Made, siapa lagi ya.. he..he..

Sebagai wali kelas, bu Endang adalah sosok yang perhatian. Mengajarnya sistematis. Tulisannya bagus (palagi kalo dibandingkan Barianto, he…he..), meskipun menulis dengan kapur (amit-amit, saya paling susah kalo nulis pake kapur). Ibu yang cantik ini setiap masuk kelas rapi sekali. Dengan mata lebar dan tatapan yang tajam, bu Endang adalah guru yang ramah dan menyenangkan.

Tapi meski begitu, kenapa ya Saya kok paling ngga bisa belajar Biologi. Mungkin terlalu melankolis cara membawakannya, sehingga Saya merasa selalu ngga bisa mengikuti pelajaran biologi. Dan pada akhirnya, Saya tidak peduli ketika pelajaran Biologi yang ujung-ujungnya bolos. Bu Endang pula yang menyelamatkan Saya dari kegagalan di SMA.

Waktu itu tidak terlupakan, ketika saya bolos selalu pas pelajarann biologi beberapa minggu. Bu Endang melalui temenku sekamar (Edy-almarhum), supaya aku diwajibkan ke rumah bu Endang di Jajag. Dengan penuh deg-degan, aku diantar Edy masuk. Apa yang terjadi, meski dengan keanggunannya, bu Endang memaksa Saya bersumpah, untuk tidak bolos dalam sekalipun pas pelajaran Biologi.. Ini karena 3 bulan setelah kejadian itu EBTANAS (sekarang UN) berlangsung. Sumpah yang dilakukan tertulis dan lisan, dengan Edy sebagai saksi..

Mungkin hukum karma ya, Saya melanjutkan kuliah baik S2 maupun S2 di jurusan Biologi. Ya itulah cerita mengharu biru, yang tak pernah terlupakan.. Sayang saksiku (Edy-almarhum) sudah terlebih dulu meninggalkan aku.. Kalo masih ada, mungkin aku bisa ketawa terbahak-bahak bersamanya.

Selamat Datang, Saudaraku!

Selamat Datang…
Terkadang hidup itu aneh dan sulit di pahami. Pepatah mengatakan dunia itu sempit ada benarnya. Dulu, masa SMA adalah masa terindah dimana segalanya penuh dengan kesan. Kegiatan apapun diikuti dan hampir tidak ada waktu istirahat. Mulai Osis, Pramuka, Pecinta Alam, Grup musik (sempat punya grup lagi), saka-saka di Pramuka, Koperasi, de el el. Semuanya berlalu begitu aja, ditimpa dengan banyak kegiatan dan kesibukan, dan tau-tau rambut sudah penuh uban, umur sudah dekat dengan kubur.

Tak disangka emang, dulu Saya mempunyai teman namanya Barianto. Orangnya dekil, kumuh, juelek banget, dan miskin lagi. Mungkin atau karena alasan itu ngga ada yang mau sebangku dengan dia.. Ngga ding, orang pada punya partner masing-masing. Dan, Barianto ini teman sebangkuku.. Kalau Saya membidiknya jadi teman sebangku karena hidup masa remajaku penuh dengan kegiatan, sehingga bisa belajar instan sama dia, he..he.. (akhirnya ngaku). Barianto remaja ini sepulang sekolah selalu angon kebo ( baca kerbau), itu yang dia ceritakan padaku suatu kesempatan. Berarti sebenarnya saya dan dia mempunyai kesamaan, yaitu MISKIN.. (sedih)..

Ada yang Saya kagumi dari dia. Orangnya brilliant, otaknya encer dan visinya besar. Pernah dalam suatu kesempatan, dia ngajari aku ulangan fisika pa srihono, dan hasilnya rapotku dapat 9. padahal untuk fisika otakku bener2 bebal, ngga ngerti blas.. yaitu tadi, males belajar, meskipun SMP pernah juara umum (sombong dikit).

Barianto remaja akhirnya masuk ITB dengan jalur PMDK.. (wajar puinter). Sedang aku ke UNM (univ negeri makasar) juga PMDK karena ngejar yang mbiayai kakak ada disana.. Udah berpikir ntar kalo terlalu jauh dengan sumber dana, sulit mintanya.. palagi jaman dulu ngga ada sms, paling telgram yang sampenya bisa 3 hari (bisa kelaparan).. Karena motivasi tinggi (memperbaiki generasi miskin), akhirnya aku sampai juga di bandung lanjut ke ITB program magister.. (akhirnya Bar, tak susul juga)..

Udah puluhan tahun melalang buana dari makasar, papua, bali, ntb, sumatra, de el el (karena okehe), lo kok tiba-tiba dapet SMS, ” ini begot ya?. Terbiasa dapet telpun gelap ya dibiarin aja.. e malah telpun, dan ternyata sahabat lamaku, sebangku “BARIANTO”..